Kita telah kerap mangulas tentang gimana teman UKM dapat tingkatkan ekspor. Tetapi anda jangan lupa juga kalau dalam perdagangan internasional, tidak cuma terdapat ekspor, tetapi juga terdapat impor. Sehingga, berarti untuk teman UKM buat mengenali tentang aktivitas impor ini.

Jika Indonesia dikala ini masih sangat tergantung terhadap benda impor. Bahan baku buat penciptaan dalam negara sebagian besar merupakan impor. Tetapi kenapa pelakon usaha masih terus melaksanakan impor? Bukankah pemerintah senantiasa inginnya kita kurangi beban impor.

Jadi, kapankah kita bagaikan pelakon UKM hendaknya melaksanakan impor? Kemudian, gimana triknya melaksanakan impor tersebut? Ayo baca postingan ini buat mencari ketahui jawabannya.

Apa itu Impor?

Impor itu pada dasarnya kebalikan dari ekspor. Aktivitas impor didasari oleh UU Nomor. 17 tahun 2006 yang mendefinisikannya bagaikan“ aktivitas memasukkan benda ke dalam wilayah pabean dalam perihal ini daerah negeri Republik Indonesia”. Sebaliknya buat definisi lengkapnya, Otoritas Jasa Keuangan mengartikan impor bagaikan“ pendapatan benda ataupun jasa dari luar negara ataupun wilayah pabean buat diedarkan ke dalam negara ataupun wilayah kemudian lintas leluasa; jasa yang diterima dari luar negara, semacam asuransi, transport, tenaga asing diperhitungkan pula bagaikan impor”.

Wajib Anda Ketahui Sebelum Melakukan Impor

Untuk yang kurang menguasai sebutan pabean( dalam bahasa inggris diucap customs), pabean merupakan aktivitas yang menyangkut pemungutan Bea Masuk pajak dalam rangka impor serta Bea Keluar buat ekspor, yang dicoba oleh Dirjen Bea serta Cukai di Indonesia. Jadi, tiap benda yang diimpor dicoba pungutan negeri berbentuk Bea Masuk bersumber pada regulasi terpaut terhadap tiap- tiap produk.

Apa Perbedaan Prosedur Impor dan Ekspor?

Bila kita telah menguasai prosedur ekspor dengan lengkap, hingga sejatinya kita pula telah menguasai prosedur impor. Kelainannya, kita disini merupakan bagaikan pembeli ataupun importir, dengan mengimpor benda dari eksportir di luar negara.

Tetapi, buat mempermudah teman UKM buat menguasai kelainannya antara prosedur impor serta prosedur ekspor ini. Terdapat baiknya memandang 5 poin berikut ini.

Perizinan

Sama halnya dengan eksportir, importir pula wajib mempunyai lisensi buat dapat melaksanakan aktivitas impor, ialah dengan API( Angka Pengenal Importir). Bila tidak mempunyai ini, hingga dapat pula dikerjakannya dengan Undername( meminjam lisensi impor industri lain).

Pengiriman Barang

Buat aktivitas pengiriman benda, tidak dapat dibedakan mana yang lebih bertanggung jawab, eksportir ataupun importir. Sebab itu seluruh bergantung dari Incoterms yang digunakan. Contohnya kala mengenakan EXW ataupun FOB, hingga importir lah yang lebih banyak mengurusi pengiriman barang. Kebalikannya, kala mengenakan CFR ataupun CIF, hingga pengiriman diurusi oleh eksportir.

Pengurusan Dokumen

Di dalam ekspor, kita telah mengenali bermacam dokumen buat dipersiapkan, semacam Invoice, Packing List, Bill of Lading, SKA, serta lain- lain. Namun bagaikan importir, kita umumnya lebih mengurusi dalam perihal pembayaran semacam pembuatan L/ C( Letter of Credit) dengan bank penerbit. Importir pula mayoritas mengurusi dokumen kepabeanan impor. Namun ini pula bergantung dari Incoterms yang digunakan serta konvensi kerjasama.

Bea yang Dikenakan

Kala mengekspor, pajak yang dikenakan merupakan Bea Keluar, ialah pungutan negeri yang dikenakan pada beberapa barang ekspor. Sebaliknya bagaikan importir, pajak yang kita wajib bayar merupakan Bea Masuk, yang ialah pungutan oleh negeri pada beberapa barang impor bersumber pada BTKI( Novel Tarif Kepabeanan Indonesia). Bagi PMK Nomor. 34/ PMK. 010/ 2017 tentang Pemungutan PPh Pasal 22 ada 1147 item yang dikenakan Bea Masuk umumnya antara lain benda elegan, serta lain sebagainya. Tetapi bea masuk bisa dibebaskan apabila nilai impor kurang dari nilai FOB USD 75.

Baca Juga :  Jasa Pengiriman Via kapal Laut Jakarta Balikpapan

Pengecekan Barang

Benda yang hendak diekspor ataupun diimpor bersama dicoba pengecekan raga terhadap benda tersebut beserta pengecekan dokumennya. Tetapi, berbeda dengan ekspor, pengecekan benda impor di Indonesia dikelompokan jadi jalan merah, jalan kuning, jalan hijau, serta jalan MITA prioritas ataupun non- prioritas, yang memastikan prosedur pengecekan barangnya.

Kenapa serta kapan kita hendaknya melaksanakan impor?

Ada sebagian motivasi/ tujuan untuk para pelakon usaha buat melaksanakan aktivitas impor, antara lain:

1. Menghadirkan produk baru yang tidak ada di dalam negeri

2. Sediakan produk bermutu lebih besar daripada produk dalam negeri

3. Kurangi bayaran penciptaan sebab lebih murahnya bahan baku

4. Tingkatkan energi saing produk Indonesia di pasar ekspor

Dengan tersedianya bermacam alternatif benda serta bahan baku dari pasar impor, nyatanya aktivitas impor menciptakan banyak keuntungan buat pelakon usaha.

Tetapi tidak baik kan bila kita selalu tergantung pada aktivitas impor demi mencari keuntungan semata. Apa jadinya nasib rekan- rekan UMKM kita yang lain yang senantiasa terkalahkan oleh produk impor.

Ayo kita bahas pro dan kontra setiap motivasi/ tujuan melaksanakan impor di atas. Manakah yang hendaknya dicoba?

Menghadirkan produk baru yang tidak ada di dalam negeri

Begitu luasnya akses ke pasar impor membuat kita menciptakan banyak produk inovatif yang potensial buat dipasarkan ke dalam negara. Terlebih, dikala ini konsumen dimanapun menuntut buat suatu yang baru serta inovatif. Apalagi, banyak yang berlomba- lomba buat mengimpor produk baru brand ternama buat dipasarkan di Indonesia.

Tetapi, apakah suatu yang baru serta inovatif cuma berasal dari pasar impor? Oke, meski kita mengakui kalau ide- ide yang inovatif itu berasal dari negara- negara maju. Kita wajib tahu kalau di dunia ini tidak terdapat yang 100% produk baru. Seluruh cumalah memodifikasi produk yang telah terdapat tadinya.

Jadi, intinya buat bisa memasarkan produk yang baru, kita tidak musti mengimpornya dari luar negara. Kita dapat mencontoh kesuksesan Cina yang memahami perdagangan internasional. Mereka sukses memproduksi benda inovatif, yang sesungguhnya cuma meniru ataupun mencontek produk dari negeri maju yang lain, tetapi dengan metode pintar ataupun yang diucap“ smart copy”.

Coba ubah mindset kita semacam yang dicoba Cina. Yang wajib kita jalani cumalah pelajari produk inovatif dari luar, kemudian coba penciptaan sendiri dengan pula menjajaki kebutuhan pasar dalam negara. Negeri kita memiliki banyak pelakon UMKM yang ingin diajak kerjasama bagaikan produsen. Terlebih, Indonesia tercantum yang mempunyai bahan baku yang berlimpah.

Sediakan produk bermutu lebih besar daripada produk dalam negeri

Kita boleh akui kalau standar- standar produk dalam negara masih kalah jauh daripada produk impor. Tetapi apakah kamu ketahui kalau banyak bahan- bahan brand ternama tetapi buatan Indonesia? Kita dapat amati contohnya pada Adidas serta Nike yang banyak produk aslinya dijual di luar merupakan Made in Indonesia. Kualitasnya juga pula terstandarisasi serta diakui oleh konsumen internasional. Dalam zona santapan, telah banyak pula produk pertanian berstandar organik yang dipasarkan di Eropa serta Amerika Serikat, yang berasal dari Indonesia.

Baca Juga :  Expedisi Cargo Laut Jakarta Seram Bagian Timur

Apa maksudnya itu seluruh? Itu berarti sesungguhnya dapat kita memproduksi benda dengan mutu besar, tanpa wajib mengimpor dari negeri luar. Perihal terutama merupakan kita ingin menekuni menimpa standarisasi. Spesialnya standar yang diakui secara internasional. Memanglah diperlukan usaha yang keras hingga dapat memproduksi produk bermutu besar. Tetapi, lebih baik kita mengangkut derajat produk buatan Indonesia bukan.

Kurangi biaya produksi produk sebab lebih murahnya bahan baku

Kita telah memandang bersama kalau bahan- bahan dari pasar impor, spesialnya Cina yang sanggup menawarkan harga yang sangat rendah. Oke, buat permasalahan harga ini, bahan baku asal Indonesia belum sanggup mengalahkannya. Ini seluruh disebabkan teknologi serta skala penciptaan kita yang belum mumpuni.

Hendak namun ingat, mahalnya harga bahan baku pula tercantum salah satunya sebab panjangnya rantai pasokan( supply chain). Spesialnya pada pertanian, banyak sekali rantai tengkulak yang kesimpulannya membuat harga bahan baku jadi sangat mahal. Jadi buat membuat harga bahan baku yang murah, nyatanya dapat loh buat dicoba memotong rantai pasokan ini dengan langsung membelinya ke petani serta produsen di rantai dini.

Telah banyak petani kita yang meringik sebab pelakon usaha lebih memilah bahan baku impor yang lebih murah. Bila memanglah perkaranya nyatanya di teknologi serta skala penciptaan, hingga itu tugas kita buat membantunya sehingga produksinya bisa jadi lebih efektif. Alternatif yang lain, merupakan menolong para petani serta produsen buat konsolidasi sehingga skala produksinya sangat besar sehingga efektif.

Hingga dari itu, impor memanglah pas dicoba buat mengirit bayaran penciptaan. Tetapi, hendaknya, impor dijadikan alternatif terakhir buat mencari bahan baku lebih murah. Ini terkecuali buat impor teknologi/ mesin yang memanglah masih sangat terbatas di Indonesia.

Tingkatkan persaingan produk Indonesia atau dalam negeri di pasar ekspor

Alibi kenapa Indonesia kalah energi saing di pasar ekspor merupakan sebab masih kalah di harga serta kalah di mutu. Harga kita kerapkali terkategori lebih mahal daripada negara- negara pesaing dari orang sebelah kita, semacam Vietnam serta Thailand, tetapi mutu pula tidak lebih baik.

Awal, ketersediaan teknologi/ mesin jadi salah satu aspek mengapa penciptaan kita tidak lebih efektif serta tidak lebih baik. Sebaliknya, mayoritas teknologi/ mesin tersebut memanglah cuma ada di pasar impor. Kedua, bahan baku pula krusial dalam permasalahan energi saing ini. Terkadang tidak banyak bahan baku di dalam negara yang bermutu besar tetapi biayanya terjangkau. Apalagi, pula terdapat sebagian industri yang bahan bakunya belum maksimal buat diambil di Indonesia, semacam Tekstil yang bahan bakunya kebanyakan dari Cina, sementara itu industrinya mempunyai kemampuan besar di pasar ekspor.

Baca Juga :  Jasa Pengiriman Murah Jakarta Merauke

Bila teman UKM memanglah wajib mengimpor buat tingkatkan energi saing di pasar ekspor, hingga ini perihal yang pas buat dicoba. Sebab seperti itu, pemerintah pula mempunyai program KITE( Kemudahan Impor Tujuan Ekspor) yang mempermudah impor buat motivasi/ tujuan ini. Penasaran? Ayo kita bahas berikutnya.

Apa itu KITE?

KITE ialah kepanjangan dari Kemudahan Impor Tujuan Ekspor. Dari nama programnya, kita telah dapat memandang kalau ini diperuntukan untuk impor yang hasil produksinya diekspor.

Bagi Dirjen Bea Cukai, ada 2 sarana KITE:

1. Sarana pembebasan bea masuk serta PPN impor tidak dipungut atas impor bahan baku buat diolah, dirakit, dipasang serta hasil produksinya diekspor

2. Sarana pengembalian bea masuk atas impor bahan baku buat diolah, dirakit, dipasang serta hasil produksinya diekspor. Penafsiran Bea Masuk tercantum bea masuk bonus semacam bea masuk anti dumping, bea masuk pembalasan, bea masuk safeguard, serta bea masuk imbalan.

Semacam seperti itu uraian pendek dari KITE ini. Tiap tubuh usaha industri manufaktur yang berorientasi ekspor berhak memakai sarana KITE, asalkan sudah mempunyai NIPER( No Induk Industri), ialah sesuatu no bukti diri yang diberikan kepada Industri buat bisa menggunakan sarana KITE.

Buat memperoleh NIPER ini, triknya gampang cuma dengan mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Daerah ataupun Kantor Pelayanan Utama( KPU) yang mengawasi posisi pabrik ataupun tempat pengolahan terletak. Ada sebagian ketentuan serta kriteria yang wajib dipadati dalam pemberian NIPER yang diatur dalam PER- 04/ BC/ 2014 buat NIPER Pembebasan serta PER- 05/ BC/ 2014 buat NIPER Pengembalian.

Sarana KITE ini mempunyai syarat batas ataupun kuota buat jumlah bahan baku yang bisa diimpor. Besarannya merupakan kapasitas penciptaan yang tercantum dalam Izin Usaha Industri industri. Jadi apabila industri mempunyai lebih dari 1 pabrik serta sudah terdaftar dalam informasi entitas perusahan hingga kapasitas penciptaan sebesar total dari segala jumlah kapasitas penciptaan dalam IUI- nya. Kemudian, tipe bahan baku yang bisa dimintakan sarana wajib berkaitan dengan hasil penciptaan serta tipe industri industri dan sudah tercantum dalam database NIPER tentang Rencana Aktivitas Penciptaan.

Buat lebih jelasnya menimpa program sarana KITE ini, bisa membaca lebih lengkapnya di web Dirjen Bea serta Cukai dengan klik disini. Kita hendak coba mangulas persyaratan serta prosedur pengajuan KITE ini di postingan lain.

Bagaikan penutup postingan ini, teman UKM memanglah dapat memperoleh khasiat dengan melaksanakan aktivitas impor. Tetapi yakinkan kalau aktivitas impor kita ini tidak merugikan produk dalam negara. Hendak lebih baik bila aktivitas impor kita terpaut dengan penciptaan benda ekspor kita. Sebab dengan melaksanakan impor bertujuan ekspor, kita tidak cuma dapat memperoleh sarana subsidi impor dari program KITE, tetapi pula senantiasa menolong tingkatkan devisa negeri kita.

Jadi, memanglah benar kita masih tergantung dengan bahan baku serta teknologi/ mesin dari pasar impor. Tetapi, ketergantungan impor ini haruslah kita ganti buat tingkatkan energi saing industri manufaktur kita di pasar ekspor.